You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Wonoayu
Desa Wonoayu

Kec. Wonoayu, Kab. Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur

WEBSITE RESMI DESA WONOAYU KECAMATAN WONOAYU, CS : 085730151992

RUWAH DESA / KELEMAN DESA WONOAYU DALAM RANGKA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2026

Administrator 10 Februari 2026 Dibaca 40 Kali
RUWAH DESA / KELEMAN DESA WONOAYU DALAM RANGKA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2026

RUWAH DESA / KELEMAN DESA WONOAYU DALAM RANGKA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2026

Wonoayu, 6 Februari 2026 - Keleman atau Ruwah Desa merupakan tradisi turun-temurun yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Wonoayu. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang masa tanam padi, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan sekaligus doa bersama agar musim tanam berjalan lancar, sawah terhindar dari hama, kekeringan, dan hasil panen kelak melimpah.

Bagi masyarakat Desa Wonoayu, menanam padi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari siklus kehidupan. Karena itu, sebelum memulai masa tanam, warga mengadakan Keleman sebagai simbol bahwa usaha manusia harus disertai doa, kebersamaan, dan niat baik. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, para pendahulu desa, serta petani-petani terdahulu yang telah menjaga lahan pertanian sebagai sumber penghidupan.

Pelaksanaan Keleman ini diawali dengan persiapan warga secara gotong royong. Setiap petani penggarap membawa makanan seperti tumpeng, jajanan pasar, hasil bumi, serta berbagai hidangan sederhana yang dikumpulkan di Pendapa Balai Desa Wonoayu. Setelah semua warga berkumpul, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Supriyadi dan doa bersama yang dipimpin oleh Kasi Kesra Moch Taufik. Doa tersebut berisi permohonan keselamatan, keberkahan rezeki, ketentraman desa, serta kelancaran seluruh rangkaian musim tanam hingga panen.

Setelah doa selesai, makanan yang telah dibawa kemudian dibagikan dan dimakan bersama. Momen ini menjadi lambang persatuan dan kebersamaan. Hal tersebut sangat penting karena kehidupan petani tidak lepas dari kerja sama, saling membantu, dan menjaga kerukunan agar proses bertani dapat berjalan lebih ringan dan penuh semangat.

Tradisi Keleman atau Ruwah Desa tidak berhenti sampai di situ. Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit sebagai hiburan sekaligus sarana pelestarian budaya. Wayang kulit dipilih karena memiliki makna yang dalam, bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Kisah-kisah wayang mengajarkan nilai kebaikan, kejujuran, kerja keras, kesabaran, serta pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pagelaran wayang kulit juga dipercaya membawa suasana sakral dan penuh doa. Dengan diiringi gamelan, suara sinden, dan cerita yang sarat pesan moral, masyarakat merasakan kebahagiaan sekaligus ketenangan batin. Malam wayangan menjadi penutup rangkaian resmi dimulai sekitar pukul 23.00 WIB, ditandai dengan penyerahan gunungan wayang oleh Kepala Desa Supriyadi dan Sekretaris Desa Yusri Fanani kepada dalang. Lakon yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut berjudul “Lahire Shinto”. Ruwah Desa dapat mempererat persaudaraan warga, menghidupkan kembali tradisi, serta menambah semangat petani untuk memulai masa tanam padi.

Dengan demikian, Keleman atau Ruwah Desa sebelum masa tanam padi bukan hanya sebuah acara adat, tetapi juga warisan budaya yang menyatukan unsur spiritual, sosial, dan seni. Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat desa menjaga hubungan yang seimbang antara manusia, alam, dan Tuhan, sekaligus merawat kebersamaan serta budaya lokal agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image